SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI PAUD KELOMPOK BERMAIN AL-HIDAYAH
Senin, 27 Agustus 2012
Jumat, 24 Agustus 2012
Kamis, 23 Agustus 2012
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS ALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FORMAL DAN NONFORMAL
MODEL
PEMBELAJARAN BERBASIS ALAM
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FORMAL DAN NONFORMAL
TIM PENGEMBANG
PUSAT KURIKULUM
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
PENDIDIKAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 i
ABSTRAK
Kurikulum Inovatif Pendidikan Anak Usia Dini
Formal dan Nonformal
Salah satu yang sangat mendasar dengan diberlakukannya
Undang Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003
tentang Perlindungan Anak, dan Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan adalah terjadinya
perubahan kewenangan dalam
pengembangan kurikulum
yaitu; dari sentralistik menjadi desentalistik yang berimplikasi
pada sekolah, komite
sekolah, madrasah dan komite madrasah diwajibkan untuk
mengembangkan perangkat kurikulum satuan tingkat
pendidikan (KTSP). Dalam
Undang-undang No. 23 Tahun 2003 Pasal 4 mengungkapkan
bahwa setiap anak berhak
untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
berpartisipasi secara wajar sesuai dengan
harkat martabat kemanusiaan, serta mendapat
perlindungan dan diskriminasi. Ini
berdampak perlunya, model kurikulum Inovasi PAUD
formal dan nonformal yang
disusun berdasarkan kajian retrospektif dan reflektif,
untuk membantu guru dan pengelola
dalam pengembangan kurikulum. Pusat Kurikulum, sebagai
salah satu unit yang berada
pada Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen
Pendidikan Nasional Nomor 24
tahun 2006 salah satu tugasnya adalah mengembangkan
model-model yang diperlukan
dalam rangka memenuhi kebutuhan, keinginan dari stakeholder.
Kurikulum Inovatif
PAUD disusun sebagai guideline bagi setiap
praktisi dan stakeholder lainnya dalam
melaksanakan pendidikan pada anak usia dini, terutama
untuk menjawab pertanyaan
tentang apa yang diajarkan dan bagaimana mengajarkan
melalui penguasaan perencanaan
yang di dasarkan pada filosofi tentang bagaimana anak
berkembang dan belajar.
Prosedur pengembangannya disusun sebagai panduan
praksis kegiatan belajar
seraya bermain pada anak usia dini sesuai dengan
karakteristik dan tahapan lingkup
pengembangan model yang menjangkau ranah usia anak 0
tahun sampai usia 6 tahun.
Prinsip-prinsip
pengembangan kurikulum Inovatif PAUD formal dan nonformal yaitu;
fleksibel, kontinyu,
adaptif, integratif, progresif, dan kontekstual. Kurikulum inovatif
pendidikan anak usia dini
dapat digunakan sebagai salah satu model yang dapat dijadikan
salah satu acuan bagi
guru dan pengelola PAUD yang pada akhirnya dapat menjembatani
pengalaman siswa belajar
terutama pada sekolah dasar di kelas rendah 1 – 3.
Temuan umum pada kegiatan
uji coba yang dilaksanakan di 2 provinsi: Jawa
Barat dan D.I.
Yogyakarta. Temuan dari hasil uji coba
model masih menemukan beberapa
kendala yaitu; belum
lengkapnya informasi dari guru/tutor dan pengelola tentang stantar
kompetensi maupun menu
generik untuk PAUD. Sebahagian besar
responden yang
dijadikan sampel dalam uji coba model mengalami
kesulitan dalam membaca, dan
memahami isi konsep-konsep model kurikulum inovatif
karena sebahagian besar
guru/tutor tidak berlatar belakang PGTK.
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 i i
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN Halaman
A. Rasional 4
B. Tujuan 4
C. Lingkup Pengembangan Model Kurikulum PAUD 5
BAB II KERANGKA FILOSOFIS 4
Pembelajaran Berbasis Alam 4
BAB III PRINSIP – PRINSIP
Pembelajaran Berbasis Alam 6
BAB IV PENDEKATAN DAN METODE PBA 9
A. Pendekatan Pembelajaran berbasis Alam 11
B. Metode Pembelajaran Berbasis Alam 15
BAB V PENGGUNAAN MEDIA DAN SUMBER
Pembelajaran Berbasis Alam 17
Bab VI PENGORANISASIAN KEGIATAN
Pembelajaran Berbasis Alam 19
Daftar Pustaka 23
Lampiran 24
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 1
Bab
1
PENDAHULUAN
A. Rasional
urikulum merupakan seperangkat konsep yang mengatur
tentang isi, tujuan dan
proses pendidikan yang akan dilaksanakan. Konsep yang
diatur dalam
kurikulum bersifat tidak kaku dan stagnan melainkan
suatu gagasan yang
dinamis dan progresif, terutama dalam memenuhi
kebutuhan perkembangan
anak pada berbagai aspek, kondisi perubahan
sosio-antropologis dan ilmu
pengetahuan serta teknologi, khususnya dalam bidang
ilmu pendidikan dan/atau
pembelajaran. Atas dasar itu, perlu diupayakan pemahaman dan
sosialisasi
perlunya pengembangan
model kurikulum inovatif yang dapat memenuhi kebutuhan
pendidik anak usia dini yang menyelenggarakan
pendidikan pada berbagai lingkungan
pendidikan keluarga (informal), masyarakat (nonformal)
dan sekolah (formal).
Pengembangan model kurikulum inovatif diarahkan untuk
membantu pendidik anak usia
dini dalam merancang model kurikulum, khususnya pada
proses pelaksanaan kegiatan
pembelajaran yang memenuhi kebutuhan dan karakteristik
perkembangan anak. Melalui
upaya ini diharapkan akan memberikan pencerahan pada
pendidik anak usia dini untuk
mengembangkan variasi proses pembelajaran yang dapat
memberikan kesempatan anak
memperoleh sejumlah pengalaman belajar secara langsung
(real learning), bermakna
(meaningfull) dan konstruktif.
B. Tujuan
Tujuan pengembangan model kurikulum inovatif PAUD
dengan model
pembelajaran berbasis alam disusun sebagai panduan
praksis pembelajaran pada anak usia
dini sesuai dengan karakteristik dan tahapan
perkembangannya. Secara spesifik, panduan
ini diarahkan untuk :
1. memberikan guideline bagi pendidik dan stakeholder
lainnya dalam melaksanakan
pendidikan pada anak usia dini khususnya dalam
melaksanakan proses pembeljaran
berbasis alam .
2. memberikan panduan kepada guru dalam memahami
konsep falsafah pendidikan yang
menjadi dasar kerangka berpikir dan bertindak secara
praksis dan profesional.
3. membantu pendidik dalam merancang dan mengembangkan
proses pembelajaran pada
anak usia dini yang memungkinkan tejadinya moving melalui
sumber belajar yang
berbasis alam.
4. membantu guru menyesuaikan pratik pembelajaran pada
anak usia dini sesuai dengan
falsafah pendidikan yang mendasarinya.
K
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 2
C. Lingkup dan Batasan
engembangan model kurikulum inovatif ini hanya
dibatasi sebagai contoh model
dari komponen penyelenggaraan kegiatan pendidikan
(standar proses
pembelajaran). Komponen ini dianggap merupakan
komponen penting dan ruh
dari suatu proses
pendidikan dimana pendidik dapat memperlihatkan pemahaman
konsep filosofis, prinsip
dan langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan
kerangka model yang
dijadikan acuan. Inovasi dimaknai sebagai pembaharuan
atau perubahan dengan
ditandai adanya hal yang baru. Inovasi adalah pemikiran
cemerlang yang diharapkan
untuk memecahkan persoalan yang timbul dan
memperbaiki suatu
keadaan. Melalui kegiatan inovatif akan ditemukan berbagai kegiatan
dan hasil yang dapat dipergunakan untuk memecahkan
berbagai persoalan yang muncul
seperti menemukan alat sederhana untuk menyaring air
kotor, membuat alat permainan
sendiri dari bahan alam
(contoh: daun dan pelepah pisang).
Ciri Inovasi dalam proses pembelajaran untuk anak usia
dini diantaranya :
1. Memiliki kekhasan/khusus dalam arti ide, program,
tatanan, sistem, termasuk hasil
yang diharapkan
2. Memiliki ciri atau unsur kebaharuan
3. Program inovasi dilaksanakan melalui program yang
terencana
4. Memiliki tujuan termasuk arah dan strategi untuk
mencapai suatu tujuan.
P
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 3
Bab
2
KERANGKA FILOSOFIS
PEMBELAJARAN BERBASIS ALAM
ingkungan alam merupakan salah satu komponen
terpenting dalam
pengembangan tujuan, isi dan proses pendidikan pada
anak usia dini. Esensi
tujuan pendidikan pada anak usia dini diantaranya
adalah membantu anak
memahami dan menyesuaikan diri secara kreatif dengan
lingkungannya.
Lingkungan yang dimaksud memiliki konotasi pemahaman
yang luas mencakup
segala sumber yang ada dalam lingkungan anak (termasuk
dirinya sendiri),
lingkungan keluarga dan rumah, tetangga (tetangga
pedagang, tetangga dokter,
tetangga peternak, dan petani), lingkungan yang
berwujud makanan, minuman serta
pakaian, gedung atau bangunan, kebun, persawahan dan
lain-lain.
Folosofis pembelajaran yang berbasis lingkungan alam
sebenarnya telah digagas pertama
kali oleh Jan Lightghart pada tahun 1859. Tokoh ini
menyajikan suatu bentuk model
pendidikan yang dikenal dengan ‘pengajaran barang
sesungguhnya’. Konsep ini menjadi
salah satu akar munculnya konsep pendidikan yang
berbasis pada alam atau back to nature
school. Ide
dasarnya adalah pendidikan pada anak dilakukan dengan mengajak anak dalam
suasana sesungguhnya melalui belajar pada lingkungan
alam sekitar yang nyata. Bentuk
pengajaran ini dilakukan sebagai upaya menentang
bentuk pengajaran yang cenderung
intelektualisme dan verbalistik. Menurut Jan
Lightghart, Sumber utama bentuk pengajaran
ini adalah lingkungan di sekitar anak.
Melalui bentuk pengajaran ini akan tumbuh
keaktifan anak dalam mengamati, menyelediki serta
mempelajari lingkungan. Kondisi
lingkungan yang sesungguhnya juga akan menarik
perhatian spontan anak sehingga anak
memiliki pemahaman dan kekayaan pengetahuan yang
bersumber dari lingkungannya
sendiri. Bahan-bahan pengajaran yang ada pada
lingkungan sekitar anak akan mudah
diingat, dilihat dan dipraktikan sehingga kegiatan
pengajaran menjadi berfungsi secara
praktis.
Inti pengajaran barang sesungguhnya adalah mengajak
anak pada kondisi lingkungan
sesungguhnya. Semua bahan yang ada di lingkungan
sekitar anak dapat dipakai sebagai
pusat minat atau pusat perhatian anak. Bahan
pengajaran dari lingkungan oleh Jan
Lighthart dikelompokan dalam tiga kategori, yaitu
lingkungan alam (sebagai bahan
mentah), lingkungan produsen atau lingkungan pengrajin
(pengolah dan penghasil bahan
mentah menjadi bahan jadi) serta lingkungan masyarakat
pengguna bahan jadi
(konsumen). Bahan ini dapat
terdiri dari tanaman, tanah, batu-batuan, kebun, sungai dan
ladang, pengarajin kayu,
rotan dan pasar atau toko sebagai pusat jual beli bahan-bahan jadi
tersebut. Berdasarkan pusat minat anak (tema) ini maka
langkah pengajaran dilaksanakan.
Landasan filosofis kedua
dapat ditelaah dari filsafat pendidikan naturalisme romantik yang
dikemukakan Rousseau.
Filosof ini berusaha mengembangkan konsep pendidikan Emile
yang dilakukan secara
naturalistik atau alami. Ia mengemukakan filosofisnya bahwa : (1)
pendidikan harus
mengembangkan kemampuan-kemampuan alami atau bakat/pembawaan
anak dan (2) pendidikan yang berlangsung dalam alam. Sesuai dengan pandangan
di atas,
L
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 4
maka pendekatan untuk mendidik anak bukanlah dengan
mengajar anak secara formal atau
melalui pengajaran langsung, akan tetapi dengan
memberi kesempatan kepada mereka
belajar melalui proses eksplorasi dan diskoveri.
Landasan filosofis ketiga adalah konsep filosofis yang
disampaikan oleh Decroly (1897).
Filosof pendidikan ini mengemukakan beberapa ide
filosofis bahwa :
1. Sekolah harus dihubungkan dengan kehidupan alam
sekitar.
2. Pendidikan dan pengajaran agar didasarkan pada
perkembangan anak.
3. Sekolah harus menjadi laboratorium bekerja bagi
anak-anak.
4. Bahan-bahan pendidikan/pengajaran yang fungsional
praktis.
Dari ketiga landasan filosofis pendidikan tersebut
diharapkan akan menjadi rumusan
pijakan untuk mengembangkan pembelajaran yang berbasis
alam untuk memberikan
pembelajaran yang bermakna bagi anak-anak. Deskripsi
analisis filosofis tersebut dapat
dirangkum sebagai berikut:
Filosofis dasar yang terkait dengan pendidikan (pembelajaran) yang berbasis alam adalah
pandangan bahwa kegiatan pendidikan (sekolah atau
kurikulum) harus dapat membantu
anak mengembangkan berbagai potensi perkembangan yang
dipergunakan untuk
beradaptasi secara kreatif dengan lingkungan alam.
Atas dasar pandangan filosofis
tersebut, kegiatan pendidikan seharusnya menggunakan
lingkungan alam dengan berbagai
variasi untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak
usia dini. Sebagai lembaga sosial,
sekolah harus menyajikan kehidupan nyata dan penting
bagi anak sebagaimana yang
terdapat di dalam rumah, di lingkungan sekitar, atau
di lingkungan masyarakat luas.
(Dewey dalam Krogh, 1994). Pandangan ini mempertegas
bahwa sekolah (kurikulum :
pembelajaran yang dilaksanakan) harus mampu membantu
anak usia dini mengelaborasi
dan mengeksplorasi lingkungan alam sebagai sumber
belajar. Kegiatan pendidikan seperti
ini sekaligus sebagai upaya memenuhi kebutuhan anak
usia dini dalam masa-masa
bermain, bereksplorasi dan bereksperimen.
Filosofis pendidikan berikutnya adalah bahwa kegiatan pembelajaran yang berbasis pada
lingkungan alam akan membantu menumbuhkan otoaktivitas
atau Autoactivity (aktivitas
yang tumbuh dari dalam diri) anak sehingga
dimungkinkan terjadi proses active learning
(belajar
secara aktif). Filosofis ini akan membantu pendidik merancang dan
mengembangkan berbagai aktivitas yang memungkinkan
anak terlibat secara aktif penuh
(penuh keaktivitas) dalam interaksi pendidikan. Anak
akan terlibat secara aktif dalam
belajar melalui proses mengamati, mencari, menemukan,
mendiskusikan, menyimpulkan,
mengkomunikasikan dan membuat laporan sendiri tentang
suatu fokus pembelajaran.
Proses belajar seperti ini akan membantu anak
memperoleh sejumlah keterampilan proses
yang sangat dibutuhkan dalam mengembangkan life
skill.
Filosofis ketiga dalam pembelajaran berbasis alam adalah pandangan bahwa lingkungan
alam akan memberikan sejumlah pengalaman belajar
langsung (real learning) dan/atau
pembelajaran secara nyata (real instructions).
Dalam istilah Jan Ligtghart ini dikenal
dengan istilah pengajaran barang yang sesungguhnya.
Konsep pendidikan seperti ini akan
membantu anak mengembangkan proses berpikir
komprehensif dalam situasi yang nyata
tentang berbagai aspek kehidupan dalam lingkungan
alam.
Filosofis keempat, konsep pembelajaran berbasis alam akan memberikan suasana atau
kesempatan pada anak untuk mengembangkan kepekaan,
kepedulian atau sensitivitas
terhadap berbagai kondisi lingkungan alam. Kegiatan
ini sekaligus tidak hanya
membangun kecerdasan naturalis anak saja tetapi juga
kecerdasan intra dan interpersonal,
kecerdasan spiritual dan berbagai kecerdasan lainnya.
Kepekaan yang berkembangan pada
anak terhadap lingkungan alam secara konseptual
disebut sebagai perhatian spontan
Perhatian spontan anak akan muncul ketika anak-anak
berinteraksi dengan berbagai objek
dan kondisi lingkungan alam, baik secara individual
maupun kelompok.
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 5
Filosofis kelima, konsep pembelajaran berbasis alam akan membantu anak memperoleh
proses dan hasil belajar yang bermakna (meaningfull
learning) serta pembelajaran yang
fungsional praktis (practical and functional
intruction). Melalui pembelajaran berbasis
alam, anak dapat menemukan, memahami dan menerapkan
secara langsung proses belajar
pada berbagai aspek dalam kehidupan secara nyata.
Dengan demikian, anak dapat
memaknai bahwa belajar tentang berbagai hal akan
memiliki makna dalam kehidupan kini
maupun di masa yang akan datang.
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 6
Bab
3
PRINSIP-PRINSIP
PEMBELAJARAN BERBASIS ALAM
Proses pembelajaran berbasis alam perlu memperhatikan
sejumlah prinsip yang
mendasarinya. Prinsip-prinsip yang dimaksud
diantaranya adalah :
1. Berpusat pada perkembangan anak dan optimalisasi
perkembangan
Keberhasilan pendidikan dapat diukur pada sejauh mana
pendidikan berhasil
mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengoptimalkan
potensi setiap anak sesuai
dengan karakteristik perkembangannya. Oleh karena itu,
keberhasilan proses
pembelajaran berbasis alam terletak pada peningkatan
optimalisasi seluruh potensi
perkembangan anak dengan menjadi lingkungan alam sebagai
sumber belajar yang
utama.
2. Membangun kemandirian anak
Proses pembelajaran yang berbasis alam diharapkan
dapat membangun dan
mengembangkan kemampuan menolong diri sendiri
(kemandirian), kedisiplinan dan
sosialisasi agar terbentuk karakter kemandirian yang
kuat. Dalam pembelajaran
yang berbasis alam, anak akan terbiasa dihadapkan pada
sejumlah persoalan kehidupan
secara faktual. Anak dapat berusaha memecahkan
persoalan tersebut, baik secara
individual maupun bekerja sama dengan teman-temannya.
3. Belajar dari lingkungan alam sekitar
Proses pembelajaran berbasis alam akan memaksimalkan pemanfaatan
kekayaan
alam yang ada, sebagai
sumber ilmu pengetahuan, sehingga memiliki ketajaman
berpikir dan
wawasan keilmuan yang aplikatif.
4. Belajar dan bermain dari lingkungan sekitar
Melalui bermain, memungkinkan anak untuk
terlibat dalam lingkungannya, melalui
konflik internal maupun eksternal sehingga anak
belajar melalui berbagai pengalaman
dengan objek, orang, kegiatan yang ada di sekitarnya.
Pembelajaran yang dialami
anak akan menjadi lebih menarik, menyenangkan (fun
learning), bermakna dan tidak
membosankan.
5. Memanfaatkan sumber belajar yang mudah dan murah
Dengan memanfaatkan lingkungan sekitar, anak
dapat mempelajari banyak hal dari
lingkungan terdekatnya (lingkungan alam, lingkungan
fisik, lingkungan sosial, kultur
budaya, dll) sehingga sumber belajar tidak harus
sengaja dirancang dengan
mengeluarkan biaya yang mahal.
6. Pembelajaran menggunakan pendekatan tematik
Pembelajaran tema adalah salah satu pendekatan
pembelajaran yang didasarkan atas
ide-ide pokok/sentral tentang anak dan lingkungannya.
Melalui pembelajaran tema
dapat memberikan pengalaman langsung tentang objek
yang riil bagi anak untuk
menilai dan memanipulasinya, menumbuhkan cara berpikir
yang komprehensif.
7. Membangun kebiasaan berpikir ilmiah sejak usia dini
Berpikir ilmiah yang dimaksud pada prinsip ini adalah
memperkenalkan dan
membiasakan anak untuk menemukan berbagai permasalahan
yang ada di
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal & Non-Formal
- 2007 7
lingkungannya dan berpikir untuk menemukan cara
memecah-kannya. Kegiatan
berpikir seperti ini dapat dilakukan melalui
eksplorasi berbagai hal yang terjadi/ada
dari lingkungannya, dari hal yang mudah/sederhana ke
arah yang lebih
kompleks/sukar.
8. Pembelajaran inspiratif, menarik, kreatif dan
inovatif
Anak adalah subjek dalam pembelajaran.
Kegiatan-kegiatan pembelajaran perlu
disiapkan untuk membangun rasa ingin tahu anak,
memotivasi anak untuk berpikir
kritis dan menemukan hal-hal yang baru.
9. Memberikan ruang bagi anak untuk belajar secara
aktif (active learning).
Dengan belajar dari sumber lingkungan sekitar dan
lingkungan lain yang mendukung
akan mendorong anak untuk menunjukkan aktivitas
belajarnya. Anak akan berusaha
mengamati, mencari dan menemukan berbagai pengetahuan
dan konsep yang penting
berkaitan dengan berbagai bidang perkembangan.
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 8
Bab
4
PENDEKATAN DAN METODE
PEMBELAJARAN BERBASIS ALAM
A. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Alam
endekatan pembelajaran merupakan suatu cara pandang
dalam melihat dan
memahami situasi belajar mengajar. Penggunaan suatu
pendekatan dapat
diibaratkan sebagai penggunaan suatu kaca mata dalam
melihat atau memandang
suatu keadaan. Jika yang digunakan kacamata hijau maka
pemandangan yang
dilihat akan serba hijau. Jika kacamata yang
dipergunakan biru maka
pemandangan yang terlihat akan serba biru. Cara
pandang dalam suatu
pendekatan pembelajaran akan membantu guru menyusun
dan mengembangkan
kerangka berpikir atau mind set tentang
berbagai unsur dalam pembelajaran. Jika guru
mengembangkan pendekatan abstrak maka seluruh proses
pembelajaran dalam strategi
pembelajaran juga akan digiring ke arah proses
pembelajaran yang abstrak. Demikian juga
jika guru menganut pendekatan ekspositori maka cara
melaksanakan kegiatan
pembelajaran akan diarahkan ke arah proses yang lebih
banyak atau didominasi oleh
kegiatan menjelaskan atau menyampaikan materi. Guru
yang mengembangkan pendekatan
berpusat pada guru (teacher centre) maka
kegiatan pembelajaran akan sepenuhnya berada
ditangan guru sedangkan murid menjadi pasif dan tidak
kreatif.
Dengan demikian, apa yang diyakini guru dalam memilih
pendekatan akan memberikan
dampak yang kuat pada pengembangan strategi pembelajaran.
Salah satu konsep pokok utama yang perlu menjadi
perhatian guru dalam memilih
dan mengembangkan strategi pembelajaran adalah
pemahaman dan penggunaan konsep
pendekatan pembelajaran (learning approach).
Seperti halnya batasan strategi
pembelajaran, pendekatan pembelajaran juga merupakan
bagian dari pemperoleh kerangka
berpikir atau mind set guru dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran agar berdaya guna
(efisien) dan berhasil guna (efektif)
yang tinggi. Pendekatan pembelajaran pada dasarnya
adalah cara pandang atau cara berpikir guru tentang
berbagai komponen dalam sistem
pembelajaran. Cara pandang ini dapat dianggap berada
dalam dua ujung titik kontinum
yang saling berlawanan. Sebagai contoh, cara pandang
guru dalam melaksanakan
pembelajaran ada yang berada paling ujung yang child
centered atau berpusat pada anak
dan guru yang berada di ujung teacher centered atau
berpusat pada guru. Dengan
demikian ke arahmana cara pandang guru dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran
dapat diukur derajat child centered-nya atau
derajat teacher centered-nya dengan
memperhatikan berbagai aspek dan indikator yang berada
pada keduanya.
Beberapa pendekatan yang dapat dijadikan rujukan dalam
pembelajaran yang berbasis
alam dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut :
1. Pendekatan pedosentris versus materiosentris
Pendekatan pedosentris (Paedos berarti kesanggupan
atau kemampuan anak, sentries
artinya berpusat) sering dikenal dengan learner
centered yakni cara memandang
kegiatan pembelajaran yang bertumpu atau bertitik
tolak dari kesanggupan atau
kemampuan anak sebagai individu yang belajar. Melalui
pendekatan ini, guru akan
P
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 9
berusaha untuk memikirkan dan menelaah seberapa
kesanggupan atau kemampuan
anak menguasai suatu proses dan bahan atau materi
pembelajaran. Bahan atau materi
pembelajaran dapat diperoleh anak dari sumber belajar
yang ada di lingkungan sekitar.
Dengan demikian, tingkat kesanggupan anak untuk
menyelesaikan suatu tahapan
perkembangan dapat diamati dan digambarkan secara
individual. Hal ini berbeda
dengan cara pandang dari materiosentris (Matero
berarti materi atau bahan
pembelajaran) yang menganggap bahwa segala pusat
kegiatan pembelajaran harus
dimulai dengan materi atau bahan pembelajaran. Cara
pandang ini akan mengarahkan
guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan
menggiring seluruh aktivitas
anak untuk menguasai materi atau bahan pembelajaran.
Bagi guru, hal terpenting
adalah bagaimana materi atau bahan pembelajaran
selesai dilaksanakan dan anak-anak
dapat menguasainya. Guru tidak perlu memikirkan anak
yang lambat, sedang atau cepat
dalam menangkap materi atau bahan pembelajaran.
2. Pendekatan Child Centered versus teacher centered
Pendekatan child centered atau student centered
merupakan suatu cara pandang yang
menganggap bahwa pusat kegiatan pembelajaran bertitik
tolak pada aktivitas anak
(murid). Cara pandang ini meyakini bahwa murid atau
anak memiliki kemampuan
sendiri melalui berbagai aktivitas dalam mencari,
menemukan, menyimpulkan serta
mengkomunikasikan sendiri berbagai pengetahuan,
keterampilan dan nilai-nilai. Tugas
guru yang utama menurut pandangan ini adalah menyusun
dan menciptakan berbagai
situasi dan fasilitas yang memungkinkan anak belajar.
Pendekatan ini dapat
dipergunakan dalam pembelajaran berbasis alam yang
memungkinkan pendidik
mengajak anak menggunakan berbagai sumber belajar
lingkungan sekitar secara aktif.
Cara pandang ini berada satu titik vertikal dengan
pendekatan pedosentris. Pada sisi
yang berlawanan, cara pandang teacher centered menekankan
pusat kegiatan
pembelajaran berada pada aktivitas guru dalam
menguasai serta menyampaikan materi
pembelajaran. Seluruh proses pembelajaran akan
diwarnai dan didominasi oleh
keaktivitan guru dalam menguasai kelas dan materi
pembelajaran. Cara pandang ini
berada dalam satu titik vertikal dengan pendekatan
materiosentris.
3. Pendekatan Discovery (penemuan) versus Ekspositori (penyajian)
Pendekatan Discovery dikenal juga dengan istilah
pendekatan penemuan. Pendekatan
ini mempunyai cara pandang yang memusatkan kegiatan
pembelajaran pada upaya atau
aktivitas anak didik untuk menemukan sendiri berbagai
aspek pengetahuan,
keterampilan dan nilai-nilai melalui berbagai
pengalaman yang dirancang dan
diciptakan guru. Melalui cara pandang ini, guru akan
berusaha memikirkan bagaimana
menciptakan situasi belajar mengajar dengan ragam
komponennya agar anak didik mau
dan bisa mencari serta menemukan sendiri berbagai
aspek pengetahuan, keterampilan
dan nilai-nilai. Pendekatan ini berada dalam satu
titik vertikal dengan pedosentris
(berpusat pada kesanggupan atau kemampuan anak) dan child
centered (berpusat pada
anak). Adapun pendekatan ekspositori lebih
memandang aktivitas pembelajaran
sebagai kegiatan guru melakukan ekspose atau penyampaian
pengetahuan,
keterampilan dan nilai-nilai.
4. Pendekatan Proses versus Pendekatan hasil
Pendekatan proses dalam pembelajaran berbasis alam
mengisyaratkan bahwa kegiatan
pembelajaran lebih mengedepankan pentingnya proses
belajar sebagai proses
pemerolehan berbagai ragam pengetahuan, nilai-nilai
dan keterampilan oleh anak
sendiri. Adapun pendekatan hasil lebih menekankan
pentingnya hasil belajar tanpa
begitu mempedulikan proses yang dilalui oleh anak
dalam belajar.
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 10
5. Pendekatan Kongkrit versus Pendekatan abstrak
Pendekatan kongkrit merupakan cara pandang dalam
proses pembelajaran yang lebih
mengupayakan pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan
proses yang kongkrit.
Melalui pendekatan ini, proses pembelajaran akan
diupayakan sedemikian rupa
sehingga menjadi suatu yang kongkrit bagi anak,
terutama menjadi hidup dalam
kehidupan sehari-hari. Adapun pendekatan abstrak
merupakan cara pandangan dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran yang lebih banyak
menggunakan proses abstrak.
Proses seperti ini memberikan pemahaman yang
verbalisme pada anak tentang
berbagai ragam pengetahuan, nilai-nilai dan
keterampilan tertentu.
6. Pendekatan Tematik
Pendekatan tematik merupakan suatu cara pandang dalam
menyelenggarakan
pembelajaran yang menggunakan berbagai konteks dalam
kehidupan anak sehari-hari.
Konteks itu sendiri terdiri dari benda, peristiwa,
keadaan atau pengalaman yang berada
dalam kehidupan sehari-hari dan mungkin dialami oleh
anak pada suatu waktu.
Pemilihan konteks ini memungkinkan guru dapat
mengembangkan suatu strategi
pembelajaran bermakna, utuh dan terpadu yang
mengkaitkan antara pembelajaran satu
dengan pembelajaran lainnya. Pendekatan pembelajaran
tematik lebih
mengutamakan pembahasan berbagai konteks yang
dimaksud, terutama aspek
pengalaman belajar siswa. Dengan demikian pembelajaran
tematik menjadi
bersahabat, menyenangkan, tetapi tetap bermakna bagi
siswa. Dalam menanamkan
konsep atau pengetahuan dan keterampilan, anak didik
tidak harus dilatih dalam
bentuk drill, tetapi anak belajar melalui
pengalaman langsung dan menghubungkannya
dengan konsep lain yang sudah dipahami. Bentuk
pembelajaran ini dikenal dengan
pembelajaran terpadu dan pembelajarannya sesuai dengan
kebutuhan dan
perkembangan anak didik.
Pembelajaran tematik harus memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Berpusat pada anak
b. Memberikan pengalaman langsung pada anak
c. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
d. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
dalam suatu proses pembelajaran
e. Bersifat fleksibel
f. Hasil pembelajaran dapat berkembangan sesuai dengan
minat dan kebutuhan anak.
Adapun kriteria dalam mengembangkan pembelajaran
tematik adalah :
a. Pengalaman dan kegiatan belajar yang relevan dengan
tingkat perkembangan dan
kebutuhan anak.
b. Menyenangkan karena bertolak dari minat dan
kebutuhan anak
c. Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih
berkesan dan bermakna.
d. Mengembangkan keterampilan berpikir anak sesuai
dengan permasalahan yang
dihadapi
e. Menumbuhkan keterampilan sosial dalam bekerja sama,
toleransi, komunikasi, dan
tanggap terhadap gagasan orang lain.
Pendekatan pembelajaran tematik memiliki beberapa
keunggulan dibandingkan
dengan bentuk pembelajaran yang tanpa menggunakan
konteks (tema). Beberapa
keungulan yang dimaksud adalah:
a. Siswa mudah memusatkan perhatian pada satu tema
atau topik tertentu.
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 11
b. Siswa dapat mempelajari pengetahuan dan
mengembangkan berbagai kompetensi
mata pelajaran dalam tema yang sama.
c. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam
dan berkesan.
d. Kompetensi berbahasa bisa dikembangkan lebih baik
dengan mengaitkan mata
pelajaran lain dan pengalaman pribadi anak.
e. anak lebih bergairah belajar karena mereka bisa
berkomunikasi dalam situasi yang
nyata, misalnya bertanya, bercerita, menulis
deskripsi, menulis surat, dan
sebagainya untuk mengembangkan ketrampilan berbahasa
sekaligus untuk
mempelajari mata pelajaran lain.
f. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran
yang disajikan secara terpadu
dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2
atau 3 kali pertemuan. Waktu
selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial,
pemantapan atau pengayaan.
g. Menyediakan kesempatan pada anak untuk terlibat
langsung dengan objek yang
sesungguhnya.
h. Menciptakan kegiatan yang melibatkan seluruh indera
anak.
i. Membangun kegiatan dari minat anak.
j. Membantu anak membangun pengetahuan baru.
k. Memberikan kegiatan dan rutinitas yang ditujukan
untuk mengembangkan seluruh
aspek perkembangan.
l. Mengakomodasi kebutuhan siswa akan kebutuhannya
untuk kegiatan dan gerak
fisik, interaksi sosial, kemadirian, konsep diri yang
positif.
m. Memberikan kesempatan menggunakan permainan untuk
menterjemahkan
pengalaman kepada pemahaman.
n. Menghargai perbedaan individu, latar belakang,
pengalaman di rumah yang dapat
dibawa anak ke kelas.
Dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran tematik
guru dapat memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
1) Pembelajaran tematis dimaksudkan agar pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar
menjadi lebih bermakna dan utuh.
2) Dalam pelaksanaan pembelajaran tematis perlu
memper-timbangkan antara lain
alokasi waktu setiap tema, memper-hitungkan banyak dan
sedikitnya bahan yang
ada di lingkungan.
3) Pilihlah tema dan jaringannya yang terdekat dengan
anak. Contoh pengembangan
jaringan tema dapat dijabarkan sebagai berikut :
Berdasarkan jaringan tema tersebut, guru dapat
menentukan jumlah minggu yang
diperlukan untuk melaksanakan suatu tema. Kedalaman
dan keluasan tema dan
jaringannya dibicarakan akan menentukan jumlah minggu
yang dibutuhkan.
Aku
(Diri
sendiri)
Anggota
Tubuh
Kepala
Badan
Tangan
Kaki
Kesukaan
Makanan-minuman
Warna
Pakaian
Olah
raga
Tempat
Rekreasi Ciri-ciri Tubuh
Gemuk-kurus
Keriting-lurus
Tinggi-pendek
Identitas
diri
(Nama,
alamat,
ayah/ibu)
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 12
4) Buatlah kegiatan umum pada masing-masing jaringan
tema tersebut, misalnya
pada jaringan anggota tubuh ditemukan kegiatan menggambar/mewarnai
anggota
tubuh, memasangkan anggota tubuh, menjiplak tubuh,
menceritakan pengalaman
sakit dari anggota tubuh, menyampaikan cara merawat
tubuh.
5) Pelajari struktur kompetensi (standar kompetensi,
dan kompetensi dasar, hasil
belajar dan indikator) pada masing-masing bidang
pengembangan (TK/RA).
6) Identifikasi dan kelompokan standar kompetensi yang
dapat dicapai pada
masing-masing tema.
7) Buatlah “Matriks hubungan antara standar kompetensi
dengan tema”.
Matriks ini berguna untuk memetakan keseluruhan
hubungan antara tema dan
standar kompetensi pada bulan atau satu semester
program. Proses ini sekaligus akan
memberikan gambaran progress pembelajaran terintegrasi
sebagai berikut :
B. Metode Pembelajaran Berbasis Alam
etode merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan
dalam pembelajaran.
Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran
berbasis alam adalah:
1. Circle Time adalah salah satu metode belajar
yang dapat digunakan dengan
membuat formasi setengah lingkaran dimana guru dengan
anak dapat
berinteraksi secara langsung. Metode ini bertujuan
untuk memberikan kesempatan
seluas-luasnya kepada anak untuk mengembangkan seluruh
aspek perkembangannya
yaitu kognitif, emosi, sosial, terutama sekali
kemampuan berbahasa serta
menumbuhkan minat belajar dan partisipasi anak.
2. Metode proyek merupakan salah satu bentuk
pembelajaran yang menghadapkan anak
pada persoalan sehari-hari yang ada dan harus
dipecahkan baik secara individu
maupun berkelompok. Metode ini merupakan salah satu
bentuk pendekatan yang
berpusat pada anak karena anak memiliki kesempatan
untuk belajar mencari jalan
keluar dari permasalahan yang mereka hadapi.
3. Metode penemuan terbimbing lebih menekankan pada
pengalaman belajar agar anak
dapat menghasilkan pemecahan khusus, agar anak mampu
menghubungkan dan
membangun konsep melalui interaksi dengan orang lain
dan objek. Contoh anak
menemukan bahwa ukuran bentuk, dan warna berbeda
melalui menemukan yang
dibimbing oleh guru.
4. Metode diskusi yaitu menunjukan interaksi timbal
balik antara guru dan anak, guru
berbicara kepada anak berbicara pada guru, dan anak
berbicara dengan anak yang
lainnya.
5. Metode demonstrasi melibatkan satu orang anak untuk
menunjukan kepada anak yang
lain bagaimana bekerjanya sesuatu dan bagaimana
tugas-tugas itu dilaksanakan. Guru
menggunakan metoda demonstrasi untuk menggambarkan
sesuatu yang akan
dilakukan oleh anak.
6. Belajar kooperatif (Cooveratif learning) dapat
diartikan anak-anak bekerjasama dalam
kelompok kecil setiap anak dapat berpartisipasi dalam
tugas-tgas bersama yang telah
ditentukan dengan jelas tidak terus menerus dan
diarahkan oleh guru melalui belajar
kooperatif melibatkan anak untuk berbagi tanggungjawab
7. Metode eksploratori, metoda ini memungkinkan anak
mengembangkan penyelidikan
langsung yang berjalan dengan langkah-langkah sendiri,
membuat keputusan apa yang
telah dilakukan, bagaimana melakukannya dan kapan
melakukannya melalui prakarsa
M
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 13
sendiri anak meneliti orang, tempat, objek, peristiwa,
sehingga anak dapat membangun
pengetahuannya sendiri.
8. Metode problem solving (pemecahan masalah)
Pemecahan masalah merupakan suatu metoda yang memberi
kesempatan kepada anak
untuk memecahkan masalah sederhana melalui kegiatan
merencanakan, meramalkan,
membuat keputusan, mengamati hasil tindakannya.
9. Museum Anak (Child Museum)
Museum anak yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang
dilakukan anak melalui
kegiatan pengumpulan benda-benda yang ada di
lingkungan sekitarnya dan
memamerkannya. Metoda ini memberikan kesempatan kepada
anak dimana anak-anak
dapat mengalami langsung sehingga pembelajaran menjadi
lebih bermakna. Melalui
metoda ini, anak dapat belajar menggali kembali
pengetahuan, melalui benda-benda
yang yang ada di lingkungan sekitarnya. Mereka dapat
mencari, mengumpulkan dan
memilah-milah atau mengelompokkan benda-benda yang ada
di sekitarnya kemudian
memamerkannya sehingga anak dapat langsung melihat,
memegang, bahkan
mengeksplorasi benda-benda yang menjadi pusat
perhatiannya.
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 14
Bab
5
PENGUNAAN MEDIA DAN SUMBER
PEMBELAJARAN BERBASIS ALAM
Pembelajaran berbasis alam dapat memanfaatkan media
dan sumber belajar secara
bervariasi serta mendukung kegiatan pembelajaran yang
optimal dan kondusif. Media dan
sumber belajar akan membantu mendekatkan jarak
pemahaman antara anak dan pendidik
tentang suatu konsep dan proses yang dipelajari.
Pendidik dapat menemukan dan
mengembangkan media serta sumber belajar yang berbasis
alam sekitar sehingga
mendorong dan memudahkan anak untuk menemukan sendiri
tentang konsep dan proses
yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Media dan sumber belajar yang digunakan dapat
dikelompokkan menjadi tiga bagian
utama, yaitu :
1. Lingkungan Alam
Lingkungan alam adalah objek-objek dan benda-benda
yang ada di alam yang sudah
tersedia yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber
belajar.
Jenis-jenis sumber belajar meliputi :
1. Tanaman
2. Binatang
3. Hutan
4. Kebun
5. Kolam
6. dll
2. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik adalah objek yang terdapat di sekitar
anak berupa bangunan atau
benda yang dibuat/dibangun oleh masyarakat sekitar.
Jenis-jenis sumber belajar meliputi :
1. Masjid
2. Kantor pos
3. Kantor Polisi
4. Perpustakaan
5. Rumah sakit
6. Supermarket
7. dll
3. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial adalah objek, kegiatan, peristiwa
yang terjadi di masyarakat/
lingkungan sekitar yang dapat dijadikan sumber
belajar.
Jenis-jenis sumber belajar meliputi :
1. Tokoh Masyarakat
2. Pasar
3. Banjir
4. Kebakaran
5. Kultur/ budaya
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 15
Media pembelajaran yang dapat digunakan dalam
memfasilitasi pembelajaran berbasis
alam meliputi:
1. Media Visual: yang hanya dapat dilihat melalui
indera penglihatan, seperti media
gambar.
2. Media Audio: yang mengandung pesan auditif (hanya
dapat didengar) yang dapat
merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan pemahaman
untuk mempelajari bahan
ajar.
3. Media Audio Visual: merupakan kombinasi audio dan
visual yang biasa disebut media
pandang dengar
4. Media Objek: merupakan media tiga dimensi yang
menyampaikan informasi tidak
dalam bentuk penyajian melainkan melalui ciri fisik
nya sendiri seperti: ukuran,
bentuk, berat, susunan, warna, fungsi dsb. Media ini
dapat dibagi dalam 2 kelompok:
media objek alami dan media objek buatan
5. Media Sederhana: media yang mudah dibuat dan mudah
diperoleh bahan-bahannya.
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 16
Bab
6
PENGORGANISASI KEGIATAN
PEMBELAJARAN BERBASIS ALAM
Pengorganisasian pembelajaran merupakan suatu upaya
yang dilakukan pendidik
untuk menciptakan suatu situasi atau iklim
pembelajaran yang kondusif dan
menyenangkan pada anak sesuai dengan model
pembelajaran berbasis alam.
Pengorganisasian ini dimaksudkan untuk memudahkan
pendidik dan anak berinteraksi
dalam berbagai situasi pembelajaran (baik in
classroom maupun outdoor activity). Dalam
pengorganisasian pembelajaran pendidik perlu
memperhatikan beberapa komponen
penting sebagai berikut :
1. Pemilihan dan pengembangan tema
Pengembangan tema dilakukan dengan menggunakan
sejumlah kriteria dan prinsip
sebagaimana dikemukakan pada konsep pengembangan tema
dan jaringannya. Salah
satu yang menjadi perhatian pendidik dalam menggunakan
pengembangan tema adalah
prinsip kedekatan, kebermaknaan dan kepraktisan
dilihat dari sisi anak didik. Adapun
contoh pengembangan tema adalah :
TEMA MATERI Jaringan Yang dikembangkan
1. Kesukaan Mainan Kesukaan
Makanan Kesukaan
Jenis, Bentuk dan warna pasir
Manfaat dan bahaya bermain pasir
Cara bermain pasir
2. Panca Indera Mata
Telinga
Hidung
Kulit
Lidah
Bentuk, ukuran dan warna mata
Kegunaan
Penyakit
Obat perawatan dan penyembuhan
Cara menghindari orang sakit mata
Benda/alat terkait mata
3. Binatang Ikan
Ayam
Nama dan Jenis
Karakteristik fisik (Bentuk, warna,
ukuran, bagian tubuh)
Siklus hidup
Kebiasaan (Makanan)
Cara beternak/merawat
Pedagang & penjual
Cara mengolah
4. Tanaman Pisang
Kembang Sepatu
Nama dan jenis
Bentuk, warna dan Ukuran
Rasa
Bagian-bagian
Proses tumbuh kembang
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 17
5. Kendaraan Sepeda Bagian-bagian
Manfaat
Cara mengendarai
Cara merawat
Adab berkendaraan
6. Pekerjaan Dokter Spesialisasi dokter
Tugas dan tanggungjawab
Peralatan yang digunakan
Tempat bekerjanya
Pakaian yang digunakan
7. Alam
semesta
Bulan
Bintang
Matahari
Bumi
Planet
Karakteristik
Waktu keberadaannya
Manfaat
Peristiwa alam (gerhana,
meteor,pelangi)
Dll
8. Alat
komunikasi
TV
Telepon
Manfaat dan kerugiannya
Cara menggunakan
Tempat membeli dan menjual
Perawatan
Tempat mereparasi
dll
9. Iklim dan
Cuaca
Hujan
Gempa
Banjir
Proses terjadinya
Akibat yang ditimbulkan
Cara menanggulanginya
Daerah yang rawan bencana
dll
2. Pemilihan indikator perkembangan
Pemilihan indikator perkembangan dianalisis dan
dijabarkan dari kompetensi dasar pada
ranah perkembangan (sesuai dengan pilihan
pengelompokan standar isi perkembangan).
• Perkembangan moral dan nilai-nilai agama
• Perkembangan fisik Motorik
• Perkembangan bahasa
• Perkembangan kognitif (Sains dan Matematika)
• Perkembangan sosial-emosional dan kemandirian
3. Pengorganisasian anak
Pengorganisasian anak dalam kegiatan pembelajaran
berbasis alam dapat disusun
sebagai berikut :
a. Kegiatan klasikal
1) kegiatan yang dilakukan oleh seluruh anak dalam
satu kelas dalam satu satuan
waktu dengan kegiatan yang sama
2) Umumnya kegiatan kelompok digunakan untuk
pengorganisasian anak pada
saat kegiatan awal dan akhir.
b. Kegiatan kelompok
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 18
Dalam satu satuan waktu tertentu terdapat beberapa
kelompok anak melakukan
kegiatan yang berbeda-beda. Pemilihan kegiatan menjadi
penting agar anak dapat
menyelesaikan kegiatn dalam waktu yang hampir
bersamaan. Umumnya kegiatan
kelompok digunakan untuk pengorganiisasian anak pada saat
kegiatan inti
c. Kegiatan individual
Setiap anak dimungkinkan memilih kegiatan sesuai
dengan minat dan kemampuan
massing-masing.
d. Kegiatan di dalam ruangan
Kegiatan yang dirancang untuk dilaksanakan di dalam
ruangan. Ruangan yang
dimaksud tidak dibatasi oleh dinding kelas
e. Kegiatan di luar ruangan
Kegiatan yang dirancang untuk dilaksanakan di luar
ruangan berupa lingkungan
alam, lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Pengorganisasian anak dapat dilakukan berdasarkan
pemilihan pelaksanaan kegiatan :
• Rutin
kegiatan pembiasaan yang dilakukan secara rutin dan
berulang-ulang oleh setiap
anak
Umumnya kegiatan berupa; doa harian, kegiatan menolong
dan melayani diri
sendiri, circle time.
• Khusus
kegiatan yang dilakukan secara khusus oleh seluruh
anak dalam satu kelas secara
klasikal maupun kelompok dalam satu satuan waktu pada
kegiatan yang sama
Umumnya kegiatan kelompok digunakan untuk
pengorganisasian anak pada saat
kegiatan inti
• Terintegrasi
Kegiatan yang dilakukan Terintegrasi
4. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pembelajaran berbasis alam secara umum menggunakan 5
langkah pokok yang secara
kreatif dapat dimodifikasi dan disesuaikan dengan
kebutuhan masing-masing
penyelenggara pendidikan anak usia dini. Kelima
langkah pembelajaran yang
dimaksud adalah :
Pertama, menentukan sesuatu yang menjadi pusat minat
anak.
Pusat minat anak ditentukan berdasarkan bahan-bahan
pengajaran yang terdapat pada
lingkungan di sekitar anak. Penentuan pusat ini
sebaiknya ditentukan berdasarkan
lingkungan yang paling dekat dengan diri anak itu
sendiri kemudian berangsungangsur
ke lingkungan yang terjauh. Misalnya ditentukan pusat
minat tanaman
(singkong, umbi dan kentang).
Kedua, melakukan perjalanan sekolah.
Setelah ditentukan pusat minat dan anak diberikan
penjelasan tentang pusat minat
tersebut maka anak bersama guru melakukan perjalanan
sekolah pada kondisi yang
menjadi pusat minat tersebut. Selama penjalanan
sekolah, anak diajak untuk
melakukan berbagai pengamatan pada kondisi
sesungguhnya ditempat itu. Pada
kondisi inilah keaktifan dan perhatian spontan anak
akan muncul, mungkin secara tibatiba
ada seekor kupu-kupu hingga pada setangkai bunga
kemudian secara spontan anak
bertanya “ mengapa kupu-kupu itu hinggap pada bunga
itu ?” Spontanitas anak ini
sudah tentu akan mengundang dialog dan interaksi
positip antara anak dengan guru
atau antara anak itu sendiri. Dari sinilah
pengembangan bahasa dan pengembangan
intelektual dapat secara bersama-sama dilakukan.
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 19
Ketiga, Pembahasan hasil pengamatan.
Berbagai bahan lingkungan yang telah diamati anak
kemudian dibicarakan lagi dalam
kelas. Pembahasan dilakukan dengan menggunakan gambar
tentang berbagai aspek
penting yang mewakili lingkungan yang telah diamati
anak (Jan Lighthart
menggunakan 24 gambar lingkungan). Dalam suasana
interaksi ini dibahas masingmasing
hal yang dilihat dan ditemukan anak dari hasil
pengamatannya dengan
menggunakan bantuan gambar-gambar.
Keempat, Menceritakan lingkungan yang diamati
Untuk menanamkan perilaku positip anak pada lingkungan
guru hendaknya
menceritakan berbagai kondisi lingkungan yang diamati
serta dihubungkan dengan
peritistiwa atau kondisi lain yang relevan, terutama
dengan tindakan dan sikap orang
terhadap lingkungan tersebut.
Kelima, Kegiatan ekspresi
Agar anak lebih menghayati kondisi lingkungan yang
telah diamati, guru menugaskan
anak untuk mengekpresikan hal-hal yang ada pada
lingkungan dengan jalan mewarnai,
menggambar, membuat sesuatu, menirukan gerak-gerik
orang yang diamati melalui
berbagai bentuk permainan dan nyanyian.
Model Pembelajaran Berbasis Alam PAUD Formal &
Non-Formal - 2007 20
Daftar Pustaka
Agus Soejiono, Aliran Baru dalam Pendidikan,
(Bandung: CV Ilmu, 1999).
Charles Wolfgang, and Mary E. wolfgang. School
for Young Children : Developmentally
Appropriate Practices. (Needham
Heights, Florida Universsity : Allyn and
Bacon, 1992).
Christine I. Bennet, Comprehensive Multicultural
Education. (Boston : Allyn and Bacon,
1990).
Carrol Cattron, and Jan Allen. Early Childhood
Curriculum, Second Edition. (New Jersey
: Merril an Imprint of Pretice Hall, 1993).
Celia Anita Decker, and John R. Decker. Planning
and Administering Early Childhood
Education Programs, fifth edition.
(New york : merril an George Imprint of
Macmillan Publishing Company, 1992).
Hapidin. Model-Model Pendidikan Untuk Anak Usia
Dini. (Jakarta : Ghiyats Alfiani
Press -2000).
Hapidin. Strategi Pembelajaran : Acuan
Konseptual dan Praksis. (Jakarta : Pusdaini
Press -2005).
Hapidin. Manajemen Penyelenggaraan TK.
(Jakarta : Universitas Terbuka -2003).
Sri Anitah Wiryawa, Noorhadi, Strategi Belajar
Mengajar, (Jakarta: Universitas Terbuka,
1991).
Langganan:
Komentar (Atom)


